Sebelum lanjut membahas mengenai judul yang kami angkat maka terlebih dahulu kami akan memberikan gambaran tentang pengertian sastra. Nah, Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut.Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya). Dengan pengertian kedua maka sastra ini dapat juga diartikan sebagai sastra yang dibuat di wilayah Melayu (selain Indonesia, terdapat juga beberapa negara berbahasa Melayu seperti Malaysia dan Brunei), demikian pula bangsa Melayu yang tinggal di Singapura. Ketika kita membahas masalah perkembangan sastra Indonesia, bayangan kita seringkali tertuju pada angkatan-angkatan sastra Indonesia, seperti angkatan 1920-an atau disebut juga angkatan Balai Pustaka; angkatan 1933, yang disebut juga angkatan Pujangga Baru; angkatan 1945 yang disebut angkatan Pendobrak, dan angkatan 1966 atau disebut juga angkatan Orde Lama.
Angkatan 1920-an identik dengan novel Marah Rusli berjudul Siti Nurbaya; angkatan 1933 dengan tokoh sastrawannya Sutan Takdir Alisahbana (dalam bidang prosa) dan Amir Hamzah (bidang puisi). Angkatan 1945 dengan tokoh sentralnya, Chairil Anwar dengan puisi-puisinya yang sangat monumental berjudul Aku. Angkatan 1966 dengan tokoh sentralnya Dr. Taufik Ismail dengan kumpulan puisinya berjudul Tirani dan Benteng. Lantas bagaimana dengan angkatan setelah angkatan 1966? Apakah masih ada angkatan selanjutnya? Coba kita lirik tahun ini, era yang telah dikuasai oleh kecanggihan dan kehebatan teknologi. Lantas, bagaimana sinkronisasi antara perkembangan teknologi informasi dan perkembangan bahasa dan sastra Indonesia?
Media cetak memberi porsi untuk sastra dalam tempat terbatas. Itu yang membuat pegiat sastra menjadi gerah karena kurangnya lahan untuk memublikasikan karyanya. Dewasa ini telah terjadi perubahan yang signifikan dalam peradaban masyarakat di dunia. Era teknologi (internet) setidaknya telah menggeser cara pandang dan sikap masyarakat tentang makna pendokumentasian sebuah karya sastra. Indikasinya adalah bertumbuhsuburnya dinamika kesusasteraan di situs pertemanan.. Situs pertemanan atau situs jejaring sosial ini sendiri banyak macamnya dan kami rasa teman-teman lebih tahu dan mengerti tentang itu. Sebut saja facebook. Orang-orang sering bilang seperti ini,hari ini belum punya facebook? Apa kata dunia?
Facebook adalah representasi peradaban teknologi informasi, facebook akan menyesatkan bila tidak disikapi. Salah satu cara untuk menyikapi facebook adalah dengan memanfaatkannya. Facebook menjadi alternatif sarana pembelajaran sastra. Facebook digauli untuk kemajuan, kebaikan, dan perkembangan dunia kesusasteraan. Facebook menjadi salah satu alternatif media untuk menjadi ‘ruang pamer’ sekaligus tempat mendokumentasikan hasil cipta, rasa, dan karsa mereka.
Sejak munculnya istilah sastra cyber, lahir pula ‘penulis-penulis cyber’ di dunia maya. Setelah menyulap website dan blog menjadi ruang pamer karya, kini ganti Facebook yang menjadi alternatif ‘ruang pajang karya.’ Selanjutnya, fenomena ini lebih booming dengan istilah ‘sastra Facebook’. Dalam situs jejaring sosial ini, tidak hanya penulis cyber yang ikut nampang. Penulis-penulis senior yang sudah memegang predikat penulis best seller pun tidak sungkan untuk memamerkan karya mereka.
Sebagian orang menganggap fenomena sastra Facebook ini adalah masalah dalam dunia sastra. Keresahan ini muncul lantaran adanya kekhawatiran akan lahirnya karya sastra dengan kualitas kurang. Selain itu, ditakutkan pula adanya kapitalisme dalam dunia sastra.
Namun, bagai dua sisi mata uang, selain sisi negatif tentu sastra Facebook juga memiliki kelebihan. Secara tidak langsung, kehadiran penulis senior dalam Facebook akan memberikan ilmunya kepada penulis pemula. Lewat tulisan, komentar-komentar, serta komunikasi antardinding yang mereka lakukan akan memberikan manfaat. Bagi penulis pemula akan mendapatkan ilmu cara berkarya yang baik. Sedangkan untuk penulis senior, selain bisa promosi karya secara gratis, juga mendapat koreksi langsung melalui komentar, baik dari rekan-rekan penulis pengguna Facebook ataupun juga dari pembaca lainnya.
Buku-buku sastra yang lahir dari para Facebooker juga banyak. Ini bukti kredibilitas sastra Facebook. Satu poin lagi untuk sastra Facebook untuk turut andilnya meramaikan pasar buku sastra yang tengah sepi.
Keuntungan lainnya dari sastra Facebook adalah, secara tidak langsung akan lahir para kritikus sastra yang akan mengasah, menyeleksi secara terus menerus sastra Facebook agar kualitasnya mampu bersaing dengan karya sastra-karya sastra pilihan dalam media massa. Tentu ini tidak bisa lepas dari tangan-tangan dingin para sesepuh dunia sastra.
Jadi, berdebat masalah untung rugi, semua hal pasti akan mengandung dua medan tersebut. Begitu juga dengan Facebook. Facebook hanyalah salah satu bentuk kemajuan teknologi. Kurang bijak rasanya bila Facebook dihindari karena citra miring yang menghinggapinya belakangan ini. Bila disikapi dengan baik, Facebook bisa dimanfaatkan untuk dijadikan media pembelajaran dan pengembangan bahasa dan sastra Indonesia.
NB : Puing pidato TI UIN 2010.
Read More..