Kamis, 25 November 2010

Pelita, 24 November 2010

Aku baru saja mengusaikan percakapan mimpi dengan temanku yang juga punya kemiripan mimpi denganku. Aku baru saja  mempertemukan argumen temanku yang terlunta dalam airmata namun kini tengah menjalani mimpi itu. Sadar atau tidak, kita semua adalah Sang Pemimpi.

Seorang berarti bilang, kita takkan ada apa-apanya ketika kita tak mempunyai kekayaan dan jabatan. Cuma itu modal hidup di tengah masyarakat materialistis saat ini yang kita butuhkan. Yang penting halal. Persetan dengan segalanya. Teman yang kuusaikan percakapan telponku dengannya sangat setuju dan menerima argumen itu. Sungguh hipokrit ketika kita menolaknya.

Aku tak berhenti berfikir. Apakah itu cara terbaik untuk hidup?

Hanya ada dua mimpi yang kupunya dan masih kugenggam erat saat ini, harapku bisa membahagiakan orang tuaku. Terjun bebas di dunia kemunafikan dengan menjadi mafia di atas mafia, itu kata ayahku. Sementara, membuat semua orang yang ada di sekitarku membincangkan sastra. Aku ingin dan sangat ingin menjadi pekerja sastra. Melihat orang berdebat tentang sastra yang tak berujung pangkal. Mimpiku sama dengan pesastra yang menjadi motivasiku.

Memperdebatkan argumen itu, maka aku kan berani berkata bahwa para penyair tak butuh harta, pangkat, dan kekuasaan untuk hidup di dunia ini. Toh, hati mereka tetap tenang, mereka juga terus dapat hidup di dunia ini. Kuajak kalian melirik kisah hidup Chairil Anwar “binatang jalang yang ingin hidup seribu tahun.”
Banyak cerita di belakang tentang mimpiku ini. Tapi, aku yakin. Ketika kita berani mulai bermimpi, maka Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu (andrea hirata) ! 

Tidak muluk-muluk! Jangan hanya pernah berani bermimpi ketika tak punya pengejawantahan akan mimpi itu!

0 komentar:

Poskan Komentar